Sunday, August 5, 2012

#150 - Sahabat Malam

By Rinny Soegiyoharto @RinnyLaPrincesa

Bekerja dari dini hari hingga lewat tengah malam, pernah menjadi keseharian saya. Lazimnya orang melakukan pekerjaan demi hasil berupa uang & materi, mungkin saja jadi salah satu dugaan orang-orang terhadap ritme hidup demikian.
Sebagiannya tidak saya pungkiri. Namun sebagian besarnya harus saya katakan: bukan itu.

Penghasilan berupa gaji tetap karena pekerjaan tetap sebagai pegawai, sesungguhnya cukup. Rumus ini bukan untuk saya saja, tapi baiknya kita semua bisa menata pemasukan dari hasil kerja agar cukup untuk kehidupan. Pasti cukup. Hanya pengelolaan & sedikit pengendalian diri, segalanya bisa diatur.
Satu keyakinan yang sangat tepat untuk mendasarinya yakni bahwa Sang Maha Kuasa pasti memelihara hidup ciptaanNYA dengan sangat baik. Kelimpahan sudah diberikan.

Jadi apa yang lain? Yang "bukan itu"?
Pukul 05:00 subuh saya sudah menyusuri perjalanan menuju tempat kerja waktu itu. Bukan Jakarta, bukan ibukota namanya, jika kita tidak bergegas sejak 3 jam sebelum waktu kerja dimulai. Jarak & kemacetan sudah biasa menjadi alasan, bukan?
Sepulang kerja, karena hari masih siang (pukul 16:00 tergolong masih siang), perjalanan menuju tempat mengajar yang terletak di provinsi tetangga, saya jalani.
Berbagi ilmu & keterampilan pada anak-anak muda di college, adalah aktivitas yang memuaskan mental. Memberikan yang belum diketahui, hingga akhirnya mereka menjadi terampil, tidak hanya dapat dihargai dengan uang atau bentuk materi apapun. Makna itu berharga dalam mengisi laci-laci kehidupan.
Hingga saat tiba kembali di rumah pukul 23:00, belum ada kantuk yang mampu mengajak tubuh beristirahat.

Maka malam pun menjadi sahabat yang setia dengan berbagai suasananya. Masih ada kendaraan lalu-lalang yang berderum di luar pagar hunian. Ada pula kodok-kodok, jangkrik, burung malam & suara sayup televisi yang sangat jarang kutonton.
Suasana malam tidak sesyahdu larik-larik puisi ataupun bahasa prosa dalam berbagai karya sastra. Namun ada misteri malam yang tak 'kan dapat digantikan oleh belahan hari lainnya. Sengatan bola api sangat berbeda dengan kehangatan lembut cahaya rembulan. Kadang ada bintang, kadang bulan hilang. Malam tetaplah malam.

Malam sahabat saya, atau saya sahabat malam. Tuts papan ketik komputer menjadi saksi persahabatan ini. Aliran kata-kata, rangkuman tulisan dalam judul & materi ajar, lahir dari persahabatan saya dengan malam. Beberapa (alih-alih sebagian besar) diantaranya sanggup diteruskan sampai ke meja editor suratkabar, ataupun tabloid. Sebagian lagi menanti cuap-cuap saya di dalam kelas. Sebagian yang lain cukup menjadi penghuni folder-folder bisu dalam 'my document'.

Hambatan-hambatan bermunculan. Misalnya, ketika sebuah novel dengan kerangka yang sudah terbangun, hanya bisa berbicara hingga introduksi. Ia tidak selesai, bahkan hingga kini tetap menghuni folder bisu yang mulai agak 'leled' dibuka. Saya tidak menganggapnya usang, sebab konsep itu terbangun dalam suasana malam sahabat saya menemani pikiran & perasaan saya. Saat ini hanya bermasalah pada 'kata sandi'. Sumpah, saya lupa kata sandi file-file itu. Omaigot!

Setidaknya, ada masa dimana malam telah memberikan inspirasi-inspirasi berharga bagi kehidupan saya. Tentang pikiran, ide-ide, nilai-nilai, perasaan, hubungan antar manusia. Tentang cinta, cemburu, rasa duka, rasa suka. Semua itu patut dikenang sebagai suatu proses pemaknaan hidup saya.
Itu tadi yang saya bilang bukan sekadar materi, sebab tak dapat dibandingkan dengan makna hidup yang memahat pengalaman-pengalaman insani; dalam hubungan dengan Pencipta (vertikal) & hubungan dengan sesama (horisontal).

Saya kini merindukan sahabat saya itu, sang malam. Tidak hanya teman insomnia karena terpaksa, tapi hubungan yang hangat & produktif. Kembali menjadi pena bagi buku kehidupan saya.

Selamat datang sahabat malam.

PondeBek - 5 Agustus 2012

•••
®egards,
Rinny Soegiyoharto
«
«

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***