Tuesday, September 18, 2012

#151 - Isi-nya Tentang 'Curhat-ku

by Rinny Soegiyoharto @RinnyLaPrincesa

Kali ini aku benar-benar 'curhat'. Selain menegaskan bahwa aku (masih) hidup, menulis juga adalah 'alat terapi' untukku. Ketika tekanan-tekanan hidup mendera, setidaknya dengan menulis aku dapat menuangkan sebagian yang terasa menyesakkan. Sejak dulu aku katarsis melalui kata-kata tertulis. Meskipun (seringkali) implisit.
Benar, aku psikolog, yang kerap terasa berat bagiku menyandangnya. Bukan hanya citra yang melekat sebagai beban profesi, tetapi juga harapan-harapan yang diletakkan pada penyandangnya.

Menulis seperti kali ini bukan juga hal ringan, karena aku harus mempersiapkan mental menerima pertanyaan-pertanyaan, komentar, cibiran, keraguan, dan sebagainya. Baik yang diungkapkan langsung maupun yang hanya tertangkap melalui ekspresi, emoticon, 'nggremengan', cemo'ohan di belakang, bahkan (boleh jadi) juga fitnah.
Tapi aku sudah siap. Apapun persepsi dan tudingan terhadapku, aku terima dengan berbagai rasa, sembari terus berlatih makin meluaskan hati.

Tanpa bermaksud membela diri, namun analogi ini relevan kuajukan untuk melengkapi coretanku. Yakni, apakah dokter dan ahli medis tidak pernah sakit? Bukankah mereka juga manusia, hingga logis dan sangat wajar apabila mereka sakit serta butuh penyembuhan.
Ekual dan tidak berlebihan jika aku berkata, "psikolog juga manusia biasa, punya masalah psikologis, yang membutuhkan proses terapi bagi pemulihannya."

Aku tidak berharap banyak pada pemahaman orang lain terhadapku. Sebagaimana yang selama bertahun-tahun ini kuhadapi, setiap orang ingin ditolong, setiap orang merasa istimewa untuk dimengerti. Mungkin aku pun begitu, meski aku merepres segalanya demi proses pemulihan bagi diriku sendiri.
Aku sering menyesal ketika pengendalian diriku lepas pada saat-saat tertentu. Inilah yang menjadi salah satu sumber pencetus; aku terlalu keras pada diri sendiri untuk selalu bertahan dalam kondisi 'baik-baik saja', padahal tidak. Posisi seperti ini menjadi makin berat ketika penyesalan-penyesalan tersebut bertubi-tubi, sementara tekanan-tekanan juga tidak berhenti.

Lantas, apakah dengan munculnya 'insight' seperti itu maka aku segera melaksanakan tahap-tahap 'self-recovery'? No! Karena tidak mudah ketika aku harus melakukannya seorang diri. Dengan penuh kesadaran, permasalahan psikologis tidak muncul hanya oleh satu faktor tunggal. Demikian juga tidak muncul hanya dari diriku sendiri. Aku (dan kita semua) selalu berinteraksi dengan lingkungan, dengan orang-orang yang mengelilingi hidupku (kita).

Jarak antar orang dalam interaksi antarpribadi bukan hanya dibatasi ruang dan waktu. Artinya, kita tidak hanya memiliki ikatan emosional dengan orang-orang yang dapat kita jumpai secara fisik sesering mungkin. Kita juga berhubungan dengan orang-orang yang beratus-ratus bahkan ribuan kilometer jaraknya dari kita, bukan? Tetapi mereka memberikan pengaruh besar bagi fluktuasi emosi dan suasana batin kita. Bahkan kita juga tetap memiliki tali batin yang mempengaruhi emosi kita, dengan orang-orang yang sudah tiada.

Kembali lagi, tentang 'curhat'ku kali ini, ternyata masih saja lebih bersifat implisit daripada terbuka. Aku tentu tahu maknanya, yakni berkaitan dengan kepribadianku (bisa juga dimanfaatkan oleh kamu yang membutuhkan informasi ini). Kepribadian yang aku maksud yakni tipe tertutup (introver) yang terkamuflase oleh perilaku terbuka, diindikasikan dengan keramahan, mudah berkomunikasi, mudah berkenalan, dapat bergurau dan tertawa-tawa, bahkan dapat menyampaikan kata-kata yang 'agak keras' kepada orang lain. Sekali lagi itu kamuflase. Karena ketertutupan akan masalah-masalah yang sesungguhnya dirasakan hanya boleh diketahui persis oleh diri sendiri dan 'orang kepercayaan', jauh lebih dominan.

Jadi, betapa menulis sungguh-sungguh alat terapi bagiku (dan yang sepertiku). Meski ketertutupan pada akar masalah tetap lebih dominan, namun kata-kata yang mengalir dalam tulisan adalah katarsis yang mampu memulihkan.
Bagi yang sempat membaca dan punya waktu, silakan menganalisis isi 'curhat'an ini. Aku yakin jika kamu cermat dan sabar, kamu dapat mengenalku dengan sangat baik. Mungkin saja kamu dapat menjadi konselor pribadiku. *ngarep.deh* :-)

Demikianlah. Aku menulis maka aku ada. Sudah selesai sampai di sini dulu. Masih akan ada episode 'curhat' berikutnya. Semoga.

18 September 2012 ~ Happy Birthday to my beloved Papi. You are so great! Thank you for all, Great Man.
•••
®egards,
Rinny Soegiyoharto
«
«

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***