Monday, January 26, 2015

#224 - Pribadi, Trauma, Konflik, Keterampilan Sosial

Penulis: Rinny Soegiyoharto

Masih ingatkah yang terjadi saat kita masih kanak-kanak hingga remaja?
Ketika bergaul dengan teman-teman di sekitar rumah, dengan teman-teman sekolah, bahkan dengan sahabat-sahabat pena karena media sosial pada saat itu mungkin belum lahir.

Pelajaran pertama untuk menjalin pertemanan di luar lingkungan keluarga datangnya dari mana?
Adakah yang dengan sengaja diajarkan oleh orangtua masing-masing?
Sebelum kita melangkahkan kaki untuk pertama kalinya keluar pintu rumah, apakah ada pelajaran-pelajaran khusus yang orangtua berikan?
Mungkin sebagian dari kita menjawab: YA, ada.
Dan sebagian yang lain menjawab: TIDAK ada.
Lalu sisanya menjawab: TIDAK TAHU, karena tidak jelas bentuknya.

Saya pikir, sebagian besar kita sebenarnya tidak secara langsung diberi pelajaran tentang "melangkah keluar rumah" oleh orangtua masing-masing.
Hal umum yang dilakukan adalah memberikan nasihat-nasihat berupa nilai-nilai penting yang perlu diingat saat kita berhubungan dengan orang lain. Misalkan pada sisi spiritual: jangan lupa berdoa; ingat selalu berbuat baik; bertemanlah dengan orang baik; jauhi pergaulan yang buruk; jangan dekat-dekat dengan anak nakal; dan seterusnya.
Biasanya bahkan cenderung hal-hal standar terkait etika pergaulan.

TETAPI tidak dilatih keterampilan khusus untuk menghadapi berbagai kemungkinan reaksi dan respons orang-orang yang bakalan kita jumpai di luar sana.
Juga tidak dipenuhi pengetahuan dan informasi yang mendukung, kecuali informasi yang sifatnya: Hitam-Putih, Baik-Buruk, Patuh-Nakal, dan sebagainya.

PADAHAL,
Bukankah hidup ini cenderung didominasi ABU-ABU dimana-mana? Ketidak-jelasan dan kejelasan yang tidak punya ukuran.
Kita belum tahu hal-hal itu pada langkah pertama keluar rumah.

NANTI, setelah kita menemui masalah atau kagok atau apapun peristiwa yang menyenangkan, menyakitkan, menghebohkan, meragukan, lalu kita terlihat sedikit berubah, sebagian orangtua mulai menyampaikan pengetahuan-pengetahuan sosial tambahan. Ada yang obyektif, tapi rasanya sebagian besar bersifat subyektif.
CONTOH, waktu kita sedih karena kehilangan setip (penghapus pinsil) di sekolah, lalu ternyata teman sebangku kita yang 'meminjamnya' untuk seterusnya. Apa yang terjadi pada reaksi orangtua? Mungkin ada yang berusaha memberi rasa tenang dengan membujuk dan membelikan yang baru. Tapi banyak juga yang kemudian melarang kita bergaul dengan teman itu. Itulah subyektivitas dalam pelajaran sikap dan perilaku.
Kita bingung?
Ya. Kita menghadapi konflik luar biasa. Tidak boleh berteman dengannya lalu dengan siapa? Kalau dia nanti berkumpul dengan teman-teman lain apakah aku tidak boleh ikut berkumpul dengan mereka?

Cerita sedikit di atas itu hanya contoh. Salah satu yang kecil sekali yang terjadi pada masa-masa kita belajar menjalin hubungan dengan orang lain di luar anggota keluarga.
TAPI, contoh kecil itu bermakna BESAR. Karena dari situlah kepribadian dan keterampilan sosial kita mulai dibentuk. Cara berpikir kita tentang orang lain, tentang situasi, tentang cara berhadapan, tentang coping (cara mengatasi rasa yang tidak nyaman), tentang kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain, dan banyak hal lagi terkait proses pembentukan diri kita sebagai pribadi yang kelak menjadi orang dewasa, dipengaruhinya.
Ya, dipengaruhi oleh hal-hal kecil yang terjadi dalam proses itu.

TRAUMA dalam kehidupan sosial, tidak saja yang berukuran besar dan kuat seperti pelecehan seksual dan kekerasan. Namun peristiwa-peristiwa yang menciptakan rasa nyaman / tidak nyaman yang merangsang kemampuan kita beradaptasi, juga bisa menjadi peristiwa TRAUMATIK.

Sampai di sini,
Sekarang mari kita masing-masing mengajak pikiran kita pada berbagai hal yang kita alami saat ini. Pada waktu kita sudah dewasa, memiliki beragam lingkungan: pekerjaan, pergaulan, komunitas, organisasi, dan lain-lain.
Lihat salah satu cara kita menghadapi konflik, misalnya dengan teman sekerja di tim (pekerjaan apa saja). Teman yang menurut kita sangat keras dan dominan. Apa yang kita lakukan?
Coba ingat-ingat, pernahkah di masa kanak-kanak dahulu, atau masa remaja (usia 11-19 tahun) kita pernah mengalami pengalaman yang mirip?
Tapi karena kita tidak tahu bagaimana harus menyikapinya, maka kita lalu "trial & error". Mencoba dengan cara sendiri yang menghasilkan sesuatu, entah itu baik atau buruk; menyenangkan atau menyakitkan; atau kita abaikan saja semua rasa yang ada.
Naaahhh... Apakah hal itu terjadi sekarang? Cara kita menghadapi situasi yang dulu itu juga cara yang sama yang kita pakai saat ini?
Itulah pengalaman sosial yang membentuk kepribadian kita dan menentukan perilaku yang kita pilih.
Apabila ternyata tidak sama, berarti kita keliru dalam memetakan pengalaman sekarang dengan pengalaman masa lalu.
Coba cari lagi.

Bagaimana selanjutnya?

Ada yang bisa dijelaskan dan ada yang tidak perlu dijelaskan.
Ada yang sifatnya sangat pribadi sehingga perlu penanganan secara pribadi juga, ada yang dapat didiskusikan di dalam kelompok.

Mari kita bicarakan hal ini melalui forum-forum.
Atau melalui KONSELING dan atau PELATIHAN.

Silakan.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***