Saturday, June 6, 2015

#231 - NEWS: Book Launch "Mental Revolution" by Indonesian Psychological Association (HIMPSI Pusat & HIMPSI Jaya)

231 - BERITA: Peluncuran Buku "Revolusi Mental" oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI Pusat & HIMPSI Jaya)

Jakarta - Kamis 4 Juni 2015, bertempat di Auditorium Universitas Paramadina, Gedung Energy lantai 22, jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI Pusat dan HIMPSI Jaya) menghelat Peluncuran Buku berisi kumpulan 33 tulisan yang dikemas dengan tajuk "Revolusi Mental: Makna dan Realisasi".
Sebagai upaya pembangunan kualitas manusia Indonesia dalam Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi Untuk Bangsa, acara ini menghadirkan sejumlah pembahas ahli dan hebat.
Hadirin adalah para undangan, dari Majelis HIMPSI Pusat dan HIMPSI Jaya, Pengurus HIMPSI, Ikatan-ikatan dan Asosiasi, Perguruan Tinggi, serta tamu undangan yakni dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi-instansi terkait, Jejaring HIMPSI, Media, dan beberapa yang lain.

Acara diawali dengan konferensi pers di ruang terpisah, diliput tak kurang dari sepuluh wartawan berbagai media nasional dan ibukota. Tak heran jika acara ini menarik minat media karena judul dan isi buku mengangkat tema yang juga jargon yang dipopulerkan kembali oleh Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo.

Rangkaian acara dibuka dengan doa, kemudian seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan diikuti Himne Psikologi Indonesia.
Setelah itu kata sambutan berturut-turut, sebagai berikut:
Kata sambutan Ketua HIMPSI, DR Seger Handoyo, Psikolog,
Kata sambutan Ketua HIMPSI Jaya, DR JAA Rumeser, MPsi, Psikolog,
Kata sambutan Asisten Deputi Kebudayaan KEMENKO Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Herbin Manihuruk, SE, MKes, mewakili Deputi DR Haswan Yunaz yang pada kesempatan ini tidak dapat hadir,
Kata sambutan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Drs Djarot Saiful Hidayat, MSi.

Dalam sambutannya Wakil Gubernur DKI Jakarta antara lain mengungkapkan sebelum menjadi wakil gubernur provinsi khusus ini, yakni ketika menjabat Walikota Blitar Jawa Timur, Djarot sudah bekerjasama dengan psikolog, melakukan perombakan susunan pejabat-pejabat daerah dan menginisiasi perubahan perilaku. Lanjutnya, di wilayah pemerintahan yang sekecil itu dia sudah menurunkan dan mengganti lebih dari seratus pejabat korup.
Atas bantuan psikolog dengan proses asesmen dan pengembangan berbasis Psikologi, Djarot dapat melaksanakan perombakan yang berlangsung 'smooth' dan tersistem, hingga tidak perlu menghadapi gejolak yang kurang baik. Ia berharap di provinsi DKI Jakarta pun psikolog-psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia dapat membantu pemerintah secara kontinu melakukan revolusi mental mencapai perubahan perilaku manusia secara signifikan dan progresif menjadi lebih baik.

Setelah sambutan-sambutan, peluncuran buku "Revolusi Mental: Makna dan Realisasi" dilakukan secara simbolik dengan pelepasan simpul pita emas 2 (dua) buku. Berlanjut dengan penyerahan buku kepada unsur pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang diwakili Asisten Deputi Kebudayaan, Herbin Manihuruk, SE, MKes; dan kepada unsur pemerintah daerah yang diterima oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Drs Djarot Saiful Hidayat, MSi. Masing-masing buku diserahkan oleh Ketua HIMPSI Pusat DR Seger Handoyo, Psikolog,
dan Ketua HIMPSI Jaya, DR JAA Rumeser, MPsi, Psikolog, diiringi penyerahan tanda kenang-kenangan.

Seremonial selesai. Acara berlanjut dengan fokus buku, yang dibagi dalam 2 (dua) sesi, yakni:
Paparan Buku dan Diskusi Buku.

Dalam Paparan Buku bertindak sebagai Moderator DR Nani Nurrachman, Psikolog, menghadirkan dua Narasumber, yakni Prof DR Hana Panggabean, Psikolog, selaku Ketua Tim Editor buku, dan DR Ichsan Malik, sebagai wakil penulis.
DR Nani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tajam, hingga kedua Narasumber langsung memaparkan secara gamblang latar-belakang dan proses penyusunan buku.
Sebagai Ketua Tim Editor, Prof Hana memaparkan kerangka penyuntingan dengan sangat sistematik, sesistematik proses penyuntingannya sendiri yang dilatari niat sederhana insan Psikologi dalam berkarya untuk bangsa. Tak lupa dia memperkenalkan anggota Tim Editor yang tak dapat hadir di acara ini, yakni Prof A Supratiknya, PhD, Psikolog, dan J Seno Aditya Utama, MSi.
DR Ichsan Malik selaku wakil penulis (dari 33 penulis dalam antologi ini) selain bertutur tentang proses penulisan berangkat dari pemahaman "revolusi mental" sendiri, memaparkan juga pengalamannya ketika rekonsiliasi perdamaian konflik Ambon (Maluku) beberapa tahun silam, dengan penguatan "Bakubae" yang merupakan proses perubahan perilaku mewujud-nyatakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pada Diskusi Buku, pemandu acara Untung Subroto Dharmawan, MPsi, Psikolog, mengundang DR Andik Matulessy, Psikolog, naik ke podium dan selanjutnya memimpin acara sebagai Moderator Diskusi. Dengan gaya khasnya yang kocak-cerdas, DR Andik mengundang empat Narasumber ke atas podium. Keempat Narasumber yang luar biasa ini semua memiliki daftar riwayat hidup panjang kali lebar kali tinggi, alias sudah malang-melintang di bidang masing-masing. DR Andik sempat berkelakar, "Waktu diskusi kita sudah termasuk pembacaan CV para narsum..."
Kaliber para narasumber memang sudah tak dapat dipungkiri, mereka adalah:
Prof Sarlito W Sarwono, Psikolog, Guru Besar Psikologi yang tak asing lagi, juga termasuk pendiri HIMPSI (dahulu ISPSI),
Dra Okky Asokawati, MSi, Psikolog, anggota DPR RI yang juga psikolog dan anggota HIMPSI,
Drs. Budiarto Shambazy, MA, atau lebih dikenal dengan Budi Shambazy, kolumnis, wartawan senior di Kompas, pengamat politik, pengamat olahraga, dan
Abdul Malik Gismar, PhD, Penasehat Senior Pusat Pengetahuan dan Sumber Daya the Partnership for Governance Reform, Associated Director Paramadina.

Dengan Narasumber "kelas berat" begitu tentu saja diskusi bernas dan agak kurang waktu. Mas Budi Shambazy menganalogikan revolusi mental pada pemerintahan sekarang dengan situasi sehabis perhelatan Pemilu Pertama Indonesia tahun 1955. Bung Karno tidak hanya berkata-kata namun bertindak revolusioner antara lain dengan keluarnya Dekrit Presiden 1959. Prof Sarlito menggaungkan kembali semangat perjuangan dalam merombak (baca: merevolusi) tatanan pemerintahan dengan perubahan perilaku yang nyata. The Professors Band, dimana Prof Sarlito salah satu pembentuknya, telah merekam album lagu-lagu perjuangan yang di-rilis ulang. Mbak Okky mendorong insan Psikologi untuk giat dan langsung berhadapan dengan Parlemen (DPR) melalui Prolegnas agar dapat mengangkat segera UU Psikologi. Mas Malik menggaris-bawahi revolusi yang menyasar pada pemberantasan kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Dia menunjukkan bukti angka mahasiswa miskin di Indonesia hanya sekitar 10%, artinya sebagian besar mahasiswa (rakyat yang mengenyam pendidikan tinggi) datang dari masyarakat menengah atas. Kemana orang miskin? Proses pendidikan formal orang miskin Indonesia terhenti di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Artinya lagi, program wajib belajar 9 tahun belum berbuah.

Mas Andik telah mengantar diskusi dengan sangat menarik ditingkahi kelakar khasnya, sebagian kami menjuluki doktor Psikologi ini dengan "pakar moderator". :)
Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan dari audience yang terlontar dalam sesi diskusi terkesan 'belum nyambung' secara substansi (Pssssttt...ini bisa saja penilaian subjektif saya yang 'nulis lhoo...he he..). Masih tertengarai individual needs para penanya. Tampaknya, dorongan dan semangat berdiskusi masih membutuhkan amunisi hasil revolusi (saya lebih suka menyebutnya: transformasi sikap dan perilaku). Artinya, diskusi itu mestinya sungguh-sungguh menyentuh kebutuhan bersama, dan lebih jauh mencapai satu tahap ke depan hingga dapat menjadi ancang-ancang penerbitan Antologi Buku Psikologi Berkarya Untuk Bangsa Seri-seri berikutnya.

Salam sukses Himpunan Psikologi Indonesia.

Thanks to Mrs Uti Rahardjo and team, the Host Event Organizer.

----------
Ditulis oleh Rinny Soegiyoharto, pada Kamis-Jum'at, 4-5 Juni 2015, di Jakarta.
Penulis adalah Psikolog dan Pengurus di HIMPSI Jaya Bidang Layanan Masyarakat.

^^
Best Regards,
#RinnySoegiyoharto
----------------------
http://RinnySoegiyoharto.com/
@rinnypsy
[NNC®]
----------------------

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***