Tuesday, July 7, 2015

#232 - Kaliurang Jogjakarta (Raker Ikatan Psikologi Klinis)

Sejak bergeser dari kota dramatik, Jogjakarta, ke ibukota negeri hiruk-pikuk, Jakarta sekitar pertengahan '90-an, saya absen menjelajahi Kaliurang meskipun sering mengunjungi Jogja. Ada kerinduan namun tidak didukung kesempatan.
Padahal saat masih mukim di kota budaya tersebut selama sekitar sepuluh tahunan lebih (sejak usia kinyis-kinyis lepas SMP) seringkali terlibat acara-acara yang diselenggarakan di Kaliurang. Mulai dari sekadar menikmati dinginnya malam bersama sahabat-sahabat, sampai acara-acara besar seperti perpisahan sekolah, ulangtahun organisasi, retreat persekutuan, lintas alam, dan sebagainya.

Kaliurang, dataran tinggi di kaki Merapi yang ada di Provinsi DIY. Tempat itu sejak dulu menjadi salah satu objek wisata Jogjakarta. Tidak hanya vila-vila peristirahatan yang ditawarkan di kawasan dingin sejuk tersebut, juga terdapat hutan lindung, area bermain, kios-kios makanan khas yang tertata rapi di sekitar Telaga Puteri, pemandangan alam yang indah dan keanggunan Merapi. Sayang sekali beberapa area wisata sempat musnah diterpa lahar vulkanik saat erupsi Merapi tahun 2010. Ada yang sudah diperbaiki dan dapat berfungsi kembali, namun banyak juga yang terlantar dibiarkan dalam kondisi rusak, termasuk beberapa vila besar. Orang bilang saat ini banyak tempat di Kaliurang yang jadi lokasi "uji-nyali". Heheheeh..

Ketika diundang mengikuti rapat kerja pengurus pusat (Raker PP) Ikatan Psikologi Klinis - Himpunan Psikologi Indonesia (IPK-HIMPSI) yang diselenggarakan di Kaliurang Jogjakarta pada 12-14 Juni 2015 lalu, serta-merta saya membayangkan situasi Kaliurang duapuluh tahun lampau. Aaahhh...rasa rindu terobati nih...
Sebelum berangkat saya persiapkan beberapa pakaian penghangat supaya tidak kedinginan nanti. Sampai kemudian diinformasikan oleh sahabat-sahabat saya bahwa Kaliurang dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Sekarang Kaliurang cenderung panas dan udaranya tidak sebersih dulu lagi. Karena sudah banyak pembangunan perumahan, pertokoan dan industri-industri di sana. Oleh sebab itu saya disarankan tidak perlu membawa pakaian-pakaian tebal, dari pada 'saltum' alias salah kostum.
(Woookkeelllaahhh kalo begitchuu..).

Benar!
Kaliurang sungguh berbeda saat ini. Jauh dari bayangan saya tentang Kaliurang pada masa duapuluhan tahun silam. Tapi harusnya memang berubah ya, bukankah waktu adalah komponen sakti yang lihai mengubah segalanya?
Namun sayang sungguh sayang, perubahan yang terjadi tidak bersifat progresif.
Benar adanya, banyak bangunan vila rusak dan dibiarkan 'menghutan' oleh pemiliknya, termasuk vila besar di depan vila tempat Raker IPK diselenggarakan. Mata batin saya menangkap fenomena khusus di situ (tidak perlu saya ceritakan di sini secara detail), yang menarik saya untuk datang mendekat dan merasakan berbagai getaran energi. Kalau saja ada jalan masuk untuk menerobos ke dalam saya mungkin sudah memasuki bangunan itu.

Benar, udara Kaliurang di waktu siang terlihat 'berminyak' dan tidak 'berair' seperti dulu. Selain juga saat ini terasa sepi dan senyap, aktivitas-aktivitas manusia di sana kurang besar untuk menggetarkan hawa hangat bersahabat. Saking sepinya, saya jarang berjumpa dengan orang lain selain kelompok kami. Suatu ketika ada suara sayup-sayup sekelompok orang menyanyikan puji-pujian, namun saya tidak melihat pelakunya.

Tunggu. Jangan pikir saya tidak suka suasana itu. Tentu saja saya tetap menikmati segala rasa magis, sensasi kesenyapan yang meramaikan mata batin, dan suasana persahabatan yang kuat diantara kami.
Saya tidak akan menuliskan jalannya raker, karena sudah pasti berlangsung lancar, smart, hangat, guyub, profesional dan dengan hasil yang optimal untuk diimplementasikan selama masa kepengurusan 5 tahun ke depan (2015-2020).

Hal menyenangkan lainnya, tetap bisa sarapan jadah tempe khas Kaliurang yang sangat nikmat. Makanan-makanan yang disajikan di vila juga enak-enak, bahkan super enak, hingga beberapa orang mengeluhkan pakaiannya yang agak menyempit saat pertemuan usai. Haha...efek kuliner selalu begitu 'kan.. Saya sendiri pun sudah mencapai angka kenaikan 12 kilogram berat badan (!#%!!) gara-gara kuliner sepanjang tahun di berbagai daerah NKRI tercinta.

Ada satu hal yang salah. Ternyata suhu udara Kaliurang pada malam hari teteeeppp bbbbrrrrrrhhrr..duingiiinn puuoolll... Maka saya pun tetap saja 'saltum', untungnya masih ada selembar jaket bertuliskan 'Psikologi' pemberian kakak tersayang Mbak Dani dan selendang Turki yang halus hangat pemberian sahabat psikologi tersayang juga, jeng Inne sang puteri Solo nan lembut, serta kaus kaki pendek namun hangat yang dibekali Nana tersayang. Dan daripada kedinginan malam-malam mendingan memamah-biak terus, ada pisang dan kacang rebus, tempe bacem, jagung, wedang jahe, dan lain-lain.

Itu semua dulu saja. Saya memang ingin cerita tentang Kaliurang nan magis. Saya ingin kembali ke sana, sekalian berbelok juga ke Kinahrejo. Sampai jumpa ya..

Selamat bertugas, mengabdi, berbakti dan melayani, untuk kami semua Pengurus Pusat Ikatan Psikologi Klinis - Himpunan Psikologi Indonesia, untuk periode 2015-2020. Kompak dan guyub selalu. Semoga makin banyak masyarakat Indonesia yang terlayani dan merasakan manfaat kehadiran psikolog dalam pelayanan kesehatan psikologis masyarakat.

Tuhan beserta kita.

^^
----------------------
http://RinnySoegiyoharto.com/
@rinnypsy
[NNC®]
----------------------

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***