Friday, January 23, 2009

Perempuan Bicara 10: A Boy's Imagination & Travian Fever

IMAJINASI SEORANG ANAK KECIL

Beberapa tahun lalu, saya berhadapan dengan seorang anak laki-laki berumur 7 (tujuh) tahun. Namanya sudah tak mampu saya ingat lagi, namun profile-nya melekat kuat di sel-sel kelabu otak saya. Tentu saja ketika itu ia (anak laki-laki yang ganteng itu) tidak datang sendiri pada saya, hati seorang ibu yang khawatir dan sangat mencintainya lah yang mengantarnya ke hadapan saya.

Tidak ada yang salah pada dirinya, bahkan interpretasi dan analisis saya membawa kesimpulan betapa kuat imajinasi dan peran belahan otak kanannya. Ia mampu berpikir dan bercerita layaknya orang dewasa, kecerdasan (intelektual) nya di atas rata-rata anak seusianya, sudah pasti. Pilihan-pilihan kata (diksi) saat mengantar cerita dan memberikan penjelasan begitu hebat, beberapa istilah yang tak umum dipergunakan anak-anak seusianya terlontar dalam tuturan yang rapih dan sistematis. Ia mengaktifkan Raticular Activating System (RAS) hingga bekerja cukup baik. Dalam hal ini dapat saya katakan, out-put imajinasi yang tertuang dalam coretan-coretan gambar (hasil olahan belah kanan otak), disampaikan secara sistematis dalam tutur verbal yang membuat orang lain mampu memahami isi pikirannya (aktivasi belahan kiri otak).

Hanya dalam beberapa menit saja ia telah menghasilkan lebih dari 2 (dua) gambar hasil coretan tangannya. Gambar-gambar itu sepintas mirip satu sama lain, akan tetapi apabila dicermati tidak ada yang sama persis. Ia telah menghasilkan beberapa peta negara yang semua diberi nama, lengkap dengan batas-batas wilayah, bentuk pemerintahan, jenis tanaman yang dominan tumbuh subur pada daerah tertentu, jenis-jenis makhluk hidup, bahkan nama-nama pejabat pemerintahnya. Ia juga mengarsir wilayah-wilayah rawan yang mengundang nafsu eksplorasi negara lain di sekitarnya. Luar biasa, bukan?

Belum berhenti sampai di situ. Ketika saya memintanya untuk menceritakan lebih banyak lagi tentang gambar-gambar itu, dengan antusias ia memberikan penjelasan panjang-lebar-tinggi. Sangat lengkap, sebagai pendengarnya saya bahkan dapat mengikuti arus emosi yang tengah berlangsung, bukan hanya dari anak kecil ganteng ini, tetapi juga jiwa dan emosi negara yang “dibangunnya” tersebut. Sebagai contoh, dituturkan bahwa salah satu negara tersebut perlu memperluas wilayahnya, karena dalam waktu beberapa tahun ke depan akan ada banyak sekali anak-anak kecil di sana. Orang dewasa di negara itu memiliki keinginan yang sama, yakni mempersiapkan generasi muda yang hebat. Oleh sebab itu banyak perempuan melahirkan anak. Selanjutnya menurut dia, anak-anak perlu tempat bermain, tempat sekolah dan tempat berlatih, agar menjadi anak-anak yang hebat.

Saat saya bertanya, sekolah seperti apa yang dibutuhkan oleh anak-anak itu nanti? Ia menjawab dengan yakin dan penuh harap: sekolah yang tidak seperti sekolah. Lalu dijelaskannya bahwa sekolah itu harus punya banyak tempat latihan, misalnya latihan naik sepeda, latihan computer, latihan memotong-motong wortel, latihan menyeberang jalan, latihan berlari, latihan berenang, latihan membuat robot, latihan menerbangkan layang-layang… dan masih banyak latihan lain, yang… khas keinginan anak-anak. Mimpi dan imajinasi bebas seorang anak kecil. Saya tersenyum.

Demam Travian

Akhir-akhir ini, Travian justru melanda orang dewasa. Mengingatkan saya pada imajinasi anak kecil yang saya jumpai bertahun-tahun lalu. Saya belum pernah bermain Travian, namun dari berbagai sumber informasi saya dapatkan bahwa Travian mirip dengan imajinasi tokoh kecil yang saya ceritakan di atas. Travian telah melanda banyak peminat dan pemain diindikasikan oleh dibukanya server-server baru Travian yang segera diserbu puluhan ribu pemain. Sebagian besar pemainnya adalah orang dewasa. Fenomena apa ya?

Travian adalah permainan komputer on-line dimana pemainnya membangun ”negara”, mulai dari mempersiapkan infrastruktur, sumber daya manusia, sistem pertahanan, sampai pada strategi eksplorasi ke ”negara” lain yang dikuasai oleh pemain lain. Mohon maaf tidak banyak yang dapat saya ceritakan soal Travian (permainan dunia maya) yang sudah menjadi demam yang melanda ratusan ribu bahkan jutaan orang dewasa di dunia. Tentu saja karena saya belum pernah terlibat langsung dalam permainan itu. Namun konon para pemain Travian sampai enggan melakukan aktivitas lain demi mempertahankan ”negara” yang dibangunnya.

Singkat cerita, saya berpikir secara sederhana. Tampaknya kebutuhan berkuasa (need of power) manusia begitu kuat, dan Travian dapat mengakomodasi kebutuhan itu di dunia maya. Kebutuhan untuk berkuasa memang merangsang kemampuan berpikir manusia. Misalnya, ketika merancang angkatan bersenjata yang kuat pada negaranya, seorang pemain perlu mengerahkan kekuatan strategic thinking-nya. Tetapi juga, merangsang energi negatif untuk menjatuhkan lawan (pemain lain dengan ”negara”nya) saat melakukan penyerangan-penyerangan terhadap lawan. Kebutuhan berkuasa (dalam hal ini) membuat orang tidak lagi mementingkan sisi kemanusiaan, baginya yang penting menang dan ia makin berkuasa.

Hingga saat ini saya masih berpikir, mencoba menganalisis lebih dalam. Tampaknya saya membutuhkan referensi ilmiah yang relevan menginterpretasikan mengapa manusia gemar mengedepankan kebutuhan berkuasanya atas manusia lain, hingga Travian menjadi suatu pilihan yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan Travian, juga pada peminat dan pemainnya. Hanya saja sebagai penghuni bumi yang merindukan kedamaian dan perdamaian bersemi indah di atas bumi karya Illahi ini, saya merasa butuh berpikir mengenai berbagai fenomena manusia dari apa saja yang teramati.

Sayang sekali saya belum punya banyak kesempatan untuk mencari referensi. Adakah yang bersedia melakukannya? Terimakasih.

Damai di bumi...

Rinny Soegiyoharto

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***