Saturday, January 17, 2009

Perempuan Bicara 9: Cerita Dari Sebuah Salon

CERITA DARI SEBUAH SALON

Sudah lebih dari 6 bulan saya tidak datang ke tempat itu. Sebelumnya saya pasti akan mampir minimal sebulan satu kali. Apalagi kah yang dilakukan perempuan saat mengunjungi salon kecantikan (rambut) jika bukan mencoba usaha pengawetan? Hehehe... merawat sesuatu di tubuh adalah bagian dari proses pengawetan, bukan? Creambath, salah satu usaha mengawetkan rambut agar dapat bertahan dari akibat-akibat alami kerusakan (polusi udara terpaksa menjadi bagian alami, meski tingkat polusi yang makin tinggi, kerusakan alam dan efek perubahan iklim adalah notabene disebabkan ulah manusia yang tak memelihara alam. Ah... sakit hati berbicara masalah ini ya...).
Well, sebab-musabab saya tidak mampir-mampir setengah tahun lebih ke tempat itu, bukan karena usaha pengawetan saya berhenti, namun saya menghindari tempat itu, saya mencari tempat lain yang menjauhkan ingatan-ingatan kenangan yang masih sulit bagi saya untuk coping.

Salon itu, selain tempat untuk melakukan usaha pengawetan, tempat memanjakan diri sejenak, tempat untuk tidur dalam sentuhan capster, lebih dari itu semua, salon tersebut adalah tempat saya menghabiskan waktu dengan ibu saya. Sebulan sekali saya mengantarkan ibu saya ke tempat itu. Ia (ibu saya) yang pada masa-masa masih sehat dan kuat beraktivitas secara mandiri, rutin melakukan perawatan rambut dan kulitnya, baik oleh diri sendiri (inilah yang paling sering dilakukannya), maupun meminta bantuan pusat perawatan seperti salon. Ibu saya lah yang mengajarkan saya bagaimana "menjadi perempuan", tidak hanya "perempuan di luar" dengan usaha pengawetan non-alami, namun juga "perempuan di dalam" yang harus terus selalu menjaga kebersihan hati dan kejernihan pikiran.

Setelah terguncang stroke pertama kali sekitar 12 tahun yang lalu, ibu saya banyak kehilangan fungsi anggota tubuhnya, termasuk kehilangan kemandirian untuk melakukan berbagai hal yang digemarinya. Episode ke salon bersama-sama kemudian menjadi acara rutin kami setiap bulan. Setelah menuntunnya ke tempat dimana ia bisa mendapatkan perawatan ataupun treatment yang diinginkannya, tentu saja saya juga mengambil kesempatan yang sama. Hampir semua capster di salon itu sudah mengenal ibu saya yang selalu datang dengan tongkat, dituntun anak perempuannya.

Selang 2 minggu saja sejak usaha pengawetan terakhir yang dilakukan terhadap ibu (di salon itu tentu saja, dan berdua dengan saya), ia (ibu) pergi menghadap Sang Khalik, Sang Empunya Hidup Yang Juga Maha Memiliki apapun di jagad raya ini. Penyebab medis adalah serangan stroke kedua kali, namun selebihnya adalah mutlak Rahasia Illahi. Meski demikian, ternyata saya tetap memerlukan cukup banyak waktu untuk berani dan siap kembali datang ke salon tersebut (tanpa ibu dalam tuntunan tangan saya).

Kemarin, akhirnya saya datang lagi ke salon itu. Seperti biasa meminta perawatan standar saja, lalu mencoba menikmati dalam pejaman mata. Saya dapat menikmatinya, selama 2 jam kepala saya di-unyel-unyel, digodog dengan steamer... hehehe mau-maunya ya direbus begitu. Tapi enak kok.
Selesailah seluruh proses, lalu saya menghampiri meja kasir, pemilik salon (kami sudah saling kenal) ada di sana. Ia menyapa saya dengan ramah dan senyum pedagang (maaf, sekadar untuk pembeda saja dengan ekspresinya setelah ini),

"Halo Mbak, sudah lama sekali tidak ke sini..."
"Iya ya," jawab saya.
"Saya tadi tanya sama anak-anak (para capsternya), mereka bilang mbak sendirian saja. Bagaimana kabar ibu?"
"Iya, saya sendiri saja. Ibu saya sudah meninggal dunia," suara saya sih normal-normal saja rasanya.

Namun pemilik salon yang ramah itu telah berubah ekspresi. Tak berapa lama ia meneteskan airmata (sudah pasti ini bukan airmata pedagang, saya berani jamin itu). Tanpa perlu saya ceritakan secara detail di sini, pemilik salon tersebut mulai bercerita tentang beberapa kenangan silam, tentu saja terkait ibu saya, saya dan penilaian dia soal hubungan kami yang dipujanya. Ia terlihat sedih, terlihat merasa ikut kehilangan. Mau tak mau saya turut juga membayangkan kenangan-kenangan itu. Cukup lama ia berbagi rasa. Dan seperti biasa, terjadi pembicaraan di dalam pikiran saya. Pembicaraan antar berbagai pikiran saya yang terjadi di otak saya dan hanya diketahui saya sendiri (Wah, ribet memang kalau apa-apa dipikirin ya...).

Sepulang dari salon itu, saya lega, akhirnya saya sudah bisa datang ke sana lagi. Setidaknya usaha pengawetan sudah dapat berjalan normal. Akan tetapi, lebih dari itu, pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah bahwa senyuman dan tangisan pedagang yang ini, bukan semata-mata bernilai jual-beli. Saat manusia memberi hati dan hidupnya terhadap pekerjaan yang dicintainya dan usaha yang digelutinya, ia juga menciptakan suatu tali silaturahmi yang bermakna sangat dalam bagi kehidupan manusia. Tali ini tidak hanya tersimpul erat dalam hubungan antar pribadi, namun juga sekaligus mengikat rapih hubungan jual-beli antara penjual dan pelanggan. Dalam hal ini saya yakin, letak trik marketing ampuh ada di sini (maaf kalau saya keliru, ya Pak Hermawan).

Semoga bermanfaat untuk seluruh pedagang yang membaca. BTW... sssttttt... jangan dikira saya bukan pedagang... hehehehe...

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***