Monday, December 27, 2010

Perempuan Berbisik 86: Anak, Boneka dan Bola

*by RinnyS*
*** *** ***
Anak, Boneka dan Bola

Messy-ku yang cantik,

Sejak sore Mama sudah sibuk di depan meja riasnya, setelah pagi hingga siang 'nguplek' di dapur dengan Si Mbok. Padahal aku tahu Mama ngga akan kemana-mana. Sebentar lagi Papa pulang dengan serombongan teman-temannya, begitu kata Mama.

Selepas Mahgrib rumah ini gegap-gempita. Kulihat raut wajah Mama bersemu merah jambu, tersipu-sipu dengar pujian sana-sini pada hasil karyanya seharian ini. Memang betul sih, makaroni panggang, pastel tutup, salad mangga, sup jagung krim, rolade ayam, steak tuna, kentang pure, puding caramel, punch buah, yang dibuat Mama bersama Si Mbok, luaaarrr biasa lezatnya. Sayang sekali perut mungilku ini ngga sanggup menyantap semua jenis makanan itu.

Messy-ku yang cantik,

Apakah kamu mau makan juga? Tapi hati-hati ya, rambutmu kan baru kusikat rapi, jangan sampai kecipratan saus steak, terlalu coklat dan lengket, he he he...

(Messy, adalah boneka besar milikku. Dia cantik sekali. Warna rambutnya pirang, panjang dan mengkilap. Aku rajin menyikat rambutnya yang ikal itu, lalu mengikatnya dengan pita berwarna emas. Duh, makin cantik dia. Messy sudah 17 tahun, aku sendiri masih 5 tahun, tapi rasanya aku sudah seumuran dengan Messy-ku.)

Messy-ku yang cantik,

Kamu dengar ngga itu, sorak-sorai, gerutuan, teriakan, komentar-komentar, di ruang tengah? Mama, Papa, dan teman-teman mereka riuh banget ya, lebih riuh dari aku dan teman-teman sekolahku saat kami menyoraki Bu Guru yang cantik dan menyenangkan itu.

Mereka semua di ruang tengah cuma nonton televisi, lho... Di layar TV ada 22 orang rebutan bola kuning. Tapi ribuan orang bersorak-sorai ramai di sekelilingnya. Lalu, ada suara yang cerewet betul ngga berhenti-berhenti. Kok bisa ya Messy, suara cerewet itu tahu persis siapa yang kakinya sedang menempel di bola kuning. Nanti aku tanya ke Papa deh, mudah-mudahan Papa mau menjelaskannya padaku.

Messy-ku yang cantik,

Bola kuningnya mirip banget dengan bola kita, ya. Itu yang di dalam kotak hijau. Tapi kalau kita yang bermain dengan bola kuning itu, pasti Mama ngga akan masak heboh, ngga akan dandan cantik kayak malam ini. Papa juga ngga akan pulang ke rumah dengan serombongan teman-temannya. Mungkin Papa malah pulang seperti biasa, waktu aku sudah tidur pules, pasti sudah di atas jam 10 malam tuh.

Messy-ku yang cantik,

Mereka di ruang tengah makin heboh saja ya. Coba dengar tuh, suara Oom dan Tante yang sangat keras, seperti sedang ngomel-ngomel. Ooooo... Mereka kayaknya kesal, karena jagoannya ngga main bagus. Mungkin mereka memang pintar bermain bola, ya, jadi bisa ngomel-ngomelin pemain jagoannya yang kurang pintar menurut mereka. Sssstttt... Aku dengar juga, mereka bilang wasitnya curang. Wah, kalau curang mestinya dikeluarkan saja dari lapangan, ya. Kayak waktu Bu Guru menyetrap teman kita di sekolah, karena curang bermain. Kata Bu Guru, yang curang berarti berbohong, berbuat salah. Itu sangat tidak baik buat banyak orang.

Lho? Aku dengar juga, mereka bilang penontonnya curang. Aduh, gawat ya kalau penonton saja bisa curang. Tapi bagaimana caranya? Penonton kan ngga main. Mestinya pemain ngga usah peduli sama penonton. Kata Bu Guru, kalau kita sedang bermain, apalagi sedang belajar, kita harus konsentrasi, jangan boleh terganggu macam-macam.

Hhhhmmmm, aku dengar juga ada suara Oom yang bilang pemain jagoan mereka 'keblinger'. Apa ya maksudnya? Oooo... Itu coba dengar, katanya pemain ngga usah jadi selebritis, apalagi sering diwawancara dan dipuji-puji, sampai keluarganya pun diwawancarai. Aduh, kok ruwet banget ya permainan bola itu!

Messy-ku yang cantik,

Bu Guru bilang, dalam pertandingan, dalam perlombaan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Jadi kita harus selalu gembira, kalau menang gembira, kalau kalah jangan sedih. Aduh, kalau aku kalah lomba menggambar, terus dimarahin Mama Papa, aku pasti sedih dan menangis. Kata Bu Guru, yang penting kita harus semangat terus, berusaha terus, harus berbuat yang paling baik. Bu Guru bilang, kalau kita berbuat yang paling baik dan terus semangat berusaha, itu pasti berhasil. Menang atau kalah kan ada di pertandingan. Kalau berhasil, itu ada dimana-mana.

Mereka di ruang tengah makin ramai saja. Sampai-sampai Papa Mama lupa padaku. Untung ada kamu, Messy-ku. Yuk kita cari bola kuning, kita main di ranjangku ya. Mumpung Mama ngga lihat, karena biasanya Mama melarang bola kuning kita ada di tempat tidur. Ayo, kamu jadi lawanku ya Messy. Goooolll... Kamu menang Messy, tapi aku ngga sedih, aku pasti bisa memasukkan bola ke gawangmu.... Naaahhh betul kan??? Horrreeee... Satu sama...!

Messy-ku yang cantik,

Aku sudah lelah, kamu pasti lelah juga. Sekarang kita istirahat saja ya. Ayo cuci kaki dan tangan dulu, terus ganti baju, lalu kita bobok. Biar saja deh Papa Mama dan teman-teman mereka masih riuh di ruang tengah. Biarkan mereka puas teriak-teriak dan sibuk jadi komentator.
Asalkan besok pagi Papa Mama tetap cium aku seperti biasa. Malam ini mungkin mereka akan cium aku larut malam, setelah teman-temannya pulang. Bola kuning hebat betul. Semoga jagoan mereka menang dan terus semangat.

Selamat bobok, Messy. Selamat malam. Sini aku cium pipi kamu. Mmmmuuaaahhh buat Messy.

:-)))))))


___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

No comments:

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***