Friday, November 25, 2011

#140 - Getting Old

by Rinny Soegiyoharto

~ menjadi tua itu pasti! menjadi dewasa itu pilihan! ~
Salah satu kalimat manis yang tak mudah hilang dari memori saya. Maaf jika saya lupa pada nama sosok berpengaruh yang mencetuskannya mula-mula. Kalimat tersebut saya dengar pertama kali dan sempat mendiskusikannya di dalam kelompok, pada saat saya tergabung dalam tim pionir pembangunan karakter, bertahun-tahun lampau.

Saya rasa itu kalimat yang pas. Tidak lebih, tidak kurang.
Saat ini saya merasa mulai menua secara fisik. Indikator yang saya rujuk antara lain, tulang-tulang yang mulai 'berderak' saat tubuh digerakkan. Juga penglihatan dan stamina yang jauh menurun. Presbyopi di atas plus 2 untuk membantu melihat deretan huruf-huruf, saya rasa bukti otentik yang tak bisa dimanipulasi, tentu selain dengan lensa kacamata. Tak ketinggalan, 'dia' yang rajin mendatangiku setahun terakhir ini, yang mengajariku bertahan dan makin bersyukur.

Banyak pelajaran 'menua' dan 'tua' yang kuserap dari sekitarku. Ada begitu banyak orang yang matang dan dewasa, selain usia yang bertambah dan menjadi tua secara alami. Tapi juga sangat banyak yang tidak yakin memilih menjadi dewasa. Bahkan perilaku serta ucapan-ucapan lisan dan tulisan yang sungguh mencerminkan kesenjangan signifikan dengan tua alamiah pada usia tubuhnya.

Saya berusaha belajar dari mereka yang merenta bersahaja dalam kerendahan hati, tulus, membangun generasi. Mereka yang tidak lagi mengukur sukses melalui hidupnya, melainkan sukses orang lain dalam ukiran tangannya. Mereka yang tak penting diri sendiri, yang tak hirau salah dan khilaf orang lain. Tentu saja mereka juga yang maju bagi orang lain, bukannya maju dari orang lain.
Mereka ini tidak sama. Ada yang benar-benar tua dalam usia dan matang sebagai pribadi. Ada pula yang memiliki pribadi matang dan konsisten, walaupun usianya relatif belum renta.

Betapa penting dan berharganya mereka. Kehidupan yang bergulir dalam penyerahan total tanpa diwarnai ambisi tahta, keserakahan harta dan kenikmatan buta. Dalam doa-doaku yang selalu berani, kuminta Gusti menuntunku menjadi dewasa seperti mereka. Proses yang berayun-ayun, indah dan luar biasa. Saya tahu, arahku benar, dikala segala sesuatu dalam tataran cosmic makro Maha Dahsyat. Sungguh-sungguh itu yang kumaksud, tak ingin hanya menjual namaNYA demi kepentingan rentannya manusia.

Dalam seluruh wawancara pemetaan dan pengembangan yang kulalui, sangat jarang menemukan sosok pemimpin yang dewasa mengembangkan orang lain. Ada banyak pemimpin dan calon pemimpin yang lebih suka berbicara 'aku' daripada 'timku'. Hingga keunggulan dan kebaikan orang lain menjadi ancaman. Hingga sangat sulit mengembangkan orang lain sesuai potensinya, tanpa batasan-batasan rasa takut terlampaui.

Ada banyak pemimpin (dalam hal ini pemimpin adalah profil yang 'dituakan') yang tak menyadari kesukaannya memamerkan diri pribadi untuk mengunggulkan citra kapasitasnya. Lupa mereka pada dukungan dan kepatuhan pengikut. Bahkan menentang pemimpin di atasnya dan tak menaruh respek. Bagaimanakah seorang pemimpin berempati pada pengikut/bawahan apabila ia sendiri tak mampu menjadi pengikut yang dewasa?

Ada juga banyak yang tak memilih dewasa, menghambat perkembangan yunior-yunior yang bersemangat mematangkan diri dalam proses belajar. Bukannya membimbing, menegur dengan kasih, mengajak bicara dalam suasana nyaman, malah menyerang tanpa ampun, demi menunjukkan kekuasaan yang seolah-olah tak pernah kikis.

Menjadi dewasa itu pilihan, tak kan mungkin dewasa jika tak pernah engkau memilihnya.

Mari menjadi tua dalam kematangan, kebijakan, kepasrahan, kerendahan-hati, penuh kasih-sayang dan sukacita tulus.

I wanna grow old with you, Sayang.
Let's grow together, to be old, and to be mature, indeed.
Be blessed.

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***