Friday, February 19, 2010

Perempuan Berbisik 61: Makna (Isi) Tulisan


*by RinnyS*
*** *** ***

Pada dasarnya yang ingin saya tulis adalah fenomena berkomunikasi via media elektronik. Dengan sengaja tidak memberikan judul tersebut lebih karena saya hanya ingin 'ngobrol santai' di oase ini. Sasarannya menekankan pada gaya menulis dan pilihan-pilihan kata (diksi) yang saya tangkap, yang saya amat-amati (beda ya dengan 'amati' :-)).

Maraknya media elektronik yang dapat diakses dengan cepat berbagai kalangan; mulai dari anak-anak, termasuk para ABeGe, hingga orala (orang lanjut usia), telah mengembangkan budaya tulis yang khas. Saya amat-amati, pada dasarnya orang suka menulis, sebagai salah satu alternatif mengambil peran penyampai pesan (pribadi). Maksud saya 'pesan pribadi' di sini, yakni pesan yang dilatari pemikiran, perasaan, nilai-nilai, serta intensi masing-masing pribadi yang menyampaikan pesannya itu.

Jarang orang menyampaikan pesan tanpa termuati 'aroma' pribadinya, alih-alih kepentingan :-).
Contoh, status-status di dinding jejaring sosial Facebook (FB). Contoh lain, 'comments' pada status orang/teman-temannya, masih di situs FB.

Tentu saja tidak FB semata yang bisa diamat-amati. Sejak provider telepon selular mampu memfasilitasi SMS, pengguna telepon selular pun ramai memanfaatkannya untuk ber-pesan singkat. Mulai dari pesan-pesan sapaan, hingga pesan-pesan untuk kepentingan bisnis. Wuuuiiihhh kerrrreeeennnn...

Soal SMS, saya kadang-kadang masih suka 'ndomblong' (melongo) saat menerima pesan singkat yang tidak saya pahami. Terpikir saat itu, apakah karena 'short message' maka kata-kata yang dipilih pun 'short-short' bener yaks? Sampai-sampai harus dibaca berulang-ulang baru bisa dimengerti isi pesan tulisan itu?

Beberapa contoh:
"Q mank bgt kl g tw jl"
"Hi lam knl q dh rim emx"
"Kmrn p'bk tlp mnt srtx dikrm aj dl"
Apa artinya? Terpaksa saya harus pakai ritual garuk-garuk kepala dulu, sebelum membacanya berulang-ulang, lalu mencoba tebak-tebak buah manggis untuk mengerti maknanya.

Dalam bersurat-suratan elektronik (e-mail), aroma pribadi setiap orang pun tercium kental. Tak beda dengan 'device messenger' semacam BBM (BlackBerry Messenger). Menariknya, ada yang konsisten dengan suatu gaya dan teknik memilih kata, namun ada juga yang terkesan selektif. Seselektif-selektifnya seseorang menerapkan gaya & memilih kata, namun ternyata tetap konsisten dalam selektifnya itu. Hehehehe...

Contoh,
Saya tergolong penyampai pesan yang 'concern' saat menuliskan NAMA orang (lain) atau penerima pesan yang saya tuju. Saya biasanya menulis nama orang dengan huruf KAPITAL mendahului nama tersebut. Tapi itu 'kan saya.
Ada pula orang yang menulis nama orang lain dengan huruf kecil semua. Saya tadinya berpikir ini adalah gayanya, tidak begitu mementingkan penulisan nama orang sebagaimana yang saya terapkan. That's fine!
Akan tetapi, kepada orang-orang tertentu, saya dapati orang yang sama menuliskan dengan baik nama orang yang dituju, lengkap dengan ejaan yang benar dan huruf kapital mendahului nama yang dituju tersebut.

Well, namanya saja saya ini sekadar mengamat-amati 'kan? Jadi bisa-bisanya saya deh menuliskan hal-hal tersebut di sini. Saya menganggapnya cukup menarik, karena dari isi tulisan & pilihan-pilihan kata tersebut, saya dapat menelaah sisi-sisi lain dari pola komunikasi lewat bahasa tulis yang bergulir di berbagai media elektronik.

Adakalanya saya iseng banget mencatat satu dua hal yang saya anggap penting. Utamanya bekal untuk saya dalam merespon pesan orang lain, atau menyampaikan pesan beraroma saya kepada orang lain.

Tabik :-)
___________
RS @ OwnBlog http://perempuan-berbisik.blogspot.com/

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***