Thursday, April 30, 2009

Perempuan Berbisik 34: Women's Personality (Part#2)


Bagian pertama dari posting ini (bagian kedua mengalami sedikit perubahan subyek, dari tunggal menjadi jamak dan dengan tambahan makna 'dimiliki oleh') saya akhiri dengan perempuan yang berjuang di dunia laki-laki. Saya harap kata-kata tersebut tidak disalah-artikan sebagai sinisma terhadap laki-laki, atau pernyataan ketidak-sukaan. Keliru jika demikian. Karena saya tetap suka laki-laki, apalagi jika sudah 'ditiup melalui telinga' (beh beh beh... jangan tanya maknanya, karena saya pasti sulit menjawab. Klik! Telepon diletakkan.)

Mula-mula saya ingin membuka referensi kitab (yang dianggap) suci, yakni alkitab pegangan saya (di dalamnya ada perjanjian lama dan perjanjian baru/injil). Tapi sebelumnya mohon maaf, saya tidak (mau) menganggap alkitab itu suci, sebab itu semata-mata hanya kitab, namun isinya, naaahhh isinya saya yakini sebagai penuntun kebenaran cinta dan firman Allah, yang telah teruji di dalam ruang dan waktu, dan akan terus teruji hingga akhir zaman.

Dalam kitab Kejadian, dikisahkan Allah menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup kepadanya. Manusia itu adalah Adam (laki-laki), manusia pertama penghuni bumi dan penguasa seluruh isinya. Setelah melihat bahwa tidak baik manusia itu sendiri saja, barulah kemudian diciptakanNYA manusia kedua, Hawa (perempuan), sebagai penolong bagi manusia pertama yang telah lebih dahulu memberi warna bagi kehidupan di dunia. Apakah sejak awal dunia telah lebih dahulu diwarnai oleh laki-laki sebagaimana Adam adalah penghuni pertamanya?

Kisah selanjutnya pun Hawa adalah satu-satunya perempuan dalam keluarga itu setelah kedua anak mereka yang terlahir lebih kemudian adalah juga laki-laki. Daripada mempertanyakan penciptaanNYA yang lainnya, lebih baik saya fokuskan saja, bahwa Hawa sebagai perempuan di antara tiga laki-laki dalam keluarganya, tentu berjuang 'sendirian' bersama berkembangnya kepribadian khas miliknya. Sebagai perempuan, ia dikatakan sebagai ibu semua yang hidup. Jelas, peran ibu tentunya melekat pada perempuan dan memiliki tugas-tugas rumah tangga yang luar biasa beragam.

Atas dosa-dosa manusia di Firdaus (Eden), kepada Hawa (represantasi perempuan, masih dalam alkitab) difirmankanNYA, "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi ('horny' tentu maksudnya) kepada suamimu dan ia (sang suami, laki-laki) akan berkuasa atasmu." Bukti, betapa laki-laki telah dimeteraikan menguasai perempuan. Hal ini juga mengandung makna bahwa perempuan, selain hidup dalam dunia laki-laki, juga dikuasai oleh laki-laki.

Kadang-kadang saya mempertanyakan, jika sejak mula-mula manusia perempuan sudah ditakdirkan berada dalam 'kekuasaan' manusia laki-laki, masihkah bermakna perjuangan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan yang sesungguhnya? Ataukah makna kesetaraan sendiri dalam setiap perjuangan kaum perempuan pada dasarnya tidak sama? Tergantung -dan kembali- pada kepentingan golongan kecil yang diusungnya? Daripada mempertanyakan hal itu, sekarang lebih baik saya menyelami pembentukan kepribadian perempuan akibat sejarah penciptaan dan pada gilirannya juga perkembangan perempuan dalam dunia laki-laki ini.

Bukan menyerah (give up), hal ini lebih pada berserah (surrender), menerima dengan ikhlas segala sesuatu yang telah terjadi dan dijadikan. Artinya, perempuan memang berkembang dan berjuang, sekaligus bertugas sebagai penolong bagi laki-laki di dalam dunia laki-laki. Kata-kata kunci yang dapat saya 'tag' pada bagian posting ini adalah: laki-laki menguasai perempuan (artinya dunia dikuasai laki-laki), banyak kesusahan dialami perempuan (artinya perempuan harus berjuang selama hidupnya, dan hal ini membentuk ciri kepribadian khas pada perempuan yang membuatnya KUAT), perempuan memiliki berahi (nafsu seksual) terhadap laki-laki.

Perempuan-perempuan yang terus berjuang, nyatanya tetap kembali kepada ikhwal kodratinya. Berwarna dan mewarnai dunia. Apa jadinya dunia tanpa perempuan dengan kepribadiannya yang kuat? (to be continued)...

RS @ own blog http://perempuan-bernama-rinny.blogspot.com/
__________________________________________________________

No comments:

Posts Archive

PEREMPUAN = SRIKANDI ?

Kenapa PEREMPUAN PEJUANG sering disebut SRIKANDI.
APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?
Kutelusuri WIKIPEDIA, kutemukan entri SRIKANDI ini

Srikandi (Sanskerta: Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata vrsi India.
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".
Srikandi dalam Mahabharata
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.
Perang di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Srikandi dalam Pewayangan Jawa
Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.

JADI, APAKAH PEREMPUAN ADALAH SRIKANDI?

*********

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN
Rinny Soegiyoharto (catatan tak selesai pada april 2006)

Ragam aktivitas ke-Kartini-an sebagai simbol emansipasi kaum perempuan seperti sebuah rutinitas lebih bergaung pada bulan April mendekati hari keduapuluhsatu. Ditandai aneka lomba dan berbagai atribut keperempuanan yang adakalanya malah tampak sekadar wujud lahiriah dan kasat mata. Sebut saja lomba berkebaya, lomba masak, lomba pasang dasi, lomba merias wajah, dan sebagainya.

*** *** *** *** ***

-DRAFT--Wanita. Meski berpadan dengan perempuan, namun kata dasar “empu” pada perempuan terasa lebih nyaman dan membanggakan, oleh sebab itu saya suka menggunakan kata “perempuan”, termasuk dalam menamai blog saya.-
Perempuan, sadar soal pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, karena di "dalam" perempuan terdapat beban psikologis memperjuangkan dirinya sendiri, terus-menerus. Utamanya dalam hal pendidikan (sudah diterobos Kartini). Guru TK-SD bahkan SMP kebanyakan perempuan. Bapak-bapak lebih banyak muncul dan berperan pada tingkat pendidikan lanjutan atas (SMA), dimana pendidikan dasar telah ditanamkan lebih dahulu oleh ibu-ibu guru. Mengapa? Sekali lagi karena perempuan secara lahiriah dan kodrati justru memikul tanggung jawab pendidikan itu sendiri yang dimulai pada dirinya sendiri. Maka, bapak-bapak guru lebih kepada transfer of knowledge, ketimbang hal-hal mendasar yang lebih berhubungan dengan pembangunan karakter, penanaman proses belajar dan pengertian-pengertian dasar untuk dan selama manusia menempuh proses pendidikan.- Pendidikan: mencakup attitude/sikap, yakni kognitif, afektif dan perilaku. Pengembangan kepribadian, pembiasaan good character, kesadaran dan tanggung jawab akan masa depan pribadi/diri sendiri yang mempengaruhi masa depan keluarga dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dan negara, dll.- Bukan diskriminasi yang mengarah pada gerakan feminisme.- Perbedaan sesuatu yang dirayakan bersama sebagai unsur2 yg saling bersinergi mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama: orangtua, pendidik, bangsa dan negara.- Berkaitan erat dengan UU Anti-KDRT. Jika perempuan terus ditindas, bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, bagaimana mungkin perempuan dapat bertugas/ berkiprah/ bertindak optimal untuk mendidik anak-anak, baik anak sendiri maupun anak-anak didik apabila ia seorang guru? Kendati lagi, waktu terus merambah, persaingan global semakin cepat dan menantang, anak tidak berhenti tumbuh dan berkembang, suatu waktu akan tiba ketika anak mulai lebih banyak mencurahkan porsi proses pendidikannya pada pemenuhan kognitif, belajar ilmu2 tinggi, yg bisa jadi sebagian besar diberikan oleh laki-laki, bapak2 yg menitikberatkan pada perkembangan kognitif.- Perempuan & laki2 lebih kepada pembagian peran, baik dalam pendidikan di dalam rumah tangga, maupun pendidikan secara luas, formal & informal. Karena baik dari segi struktur fisiologis dan psikologis serta kultural dan sejarah di dalam masyarakat kita, telah membentuk sebuah perbedaan laki2 dan perempuan, yang harus kita rayakan bersama-sama membentuk manusia-manusia berkualitas dlm diri anak2 kita sebagai proses pendidikan menuju masa depan cerah mengikuti kecerahan janji bangsa ini. Amin.-

Pendidikan dimulai dari rumah. Peran ibu sebagai objek kelekatan anak yang pertama terhadap proses pendidikan anak tentulah tidak kecil. Sebagai perempuan, tentunya ibu harus tidak hanya memberikan pelajaran, namun pendidikan kasih sayang, penanaman afeksi, unsur penting bagi rasa nyaman dan aman bagi anak, karena merasa dicintai. Bagaimana mungkin ibu dapat menanam benih cinta pada anak apabila dia sendiri mengalami kekerasan dalam rumah tangga.***